05 September 2006

Hisab Ramadhan - Syawal 1427H

Tidak terasa sudah masuk bula Sya'ban. sebentar lagi Bulan Ramadhan akan Tiba.

Seperti biasa, menjelang ramadhan saya mencoba melakukan hisab dengan teknik yang sederhana. Teknik ini seharusnya bisa dilakukan oleh siapapun.

Sebelum melakukan hisab, ada baiknya kita memeriksa kapan terjadinya Konjungsi atau Ijtimak. Konjungsi adalah saat dimana matahari "menyalip" (mendahului) Bulan. Sebelum ijtimak, matahari ada di belakang bulan, namun setelah ijtimak matahari ada di didepan bulan. Cukup penting untuk mengetahui kapan terjadinya ijtimak, karena kalau terjadinya setelah maghrib, artinya bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Tidak mungkin tampak hilal. Sebaliknya jika Ijtimak terjadi sebelum maghrib, bisa jadi (tapi bisa juga tidak) akan terlihat hilal karena matahari lebih dahulu terbenam dari pada bulan.

Perlu juga diketahui bahwa semakin ke barat, semakin Jelas Hilal akan terlihat. Jika Indonesia Timur Hilal terlihat, sudah pasti Indonesia Barat Hilal juga terlihat, namun belum tentu terjadi sebaliknya, Bisa jadi Indonsia timur Hilal tidak telihat, namun Indonesia Barat sudah terlihat. Hal ini terjadi karena semakin kearah barat, semakin terlambat matahari terbenam. Karenanya semakin kearah barat, semakin panjang waktu antara terjadinya konjungsi dengan terbenamnya matahari. Hal ini berdampak hilal semakin tinggi terlihat pada saat maghrib.

Mengingat Arab Saudi berada di sebelah barat Indonesia hal yang sama bisa juga terjadi. Jika di Indonesia Hilal terlihat, sudah pasti di Arab Saudi juga, namun belum tentu sebaliknya. Bisa jadi di Indonesia hilal belum terlihat, namun di Arab saudi (dimana maghrib terjadi 4 jam setelah Jakarta) Hilal terlihat. Oleh karena itu sering terjadi Ramadhan/Syawal datang lebih awal di Arab Saudi daripada di Indonesia.

Oke, mari kita lihat.

Berdasarkan kalender bulan dari NASA, ijtimak atau konjungsi bulan akan terjadi :
Ramadhan --> Tanggal 22-09-2006: 11:45 UTC (18:45 WIB)
Syawal ------> Tanggal 22-10-2006: 05:14 UTC (12:14 WIB)

Dari Hasil tersebut terlihat bahwa akhir Ijtimak terjadi pada tanggal 22 september setelah matahari terbenam! (juga berlaku untuk Indonesia tengah dan timur) Bisa dipastikan bahwa hilal tidak mungkin terlihat karena bulan telah terbenam sebelum matahari. Oleh karena itu awal ramadhan dipastikan akan jatuh keesokan lusa yaitu pada tanggal 24 september.

Semetara Ijtimak untuk bulan syawal terjadi pada tanggal 22 Oktober 2006 pada pukul 12.14 WIB. Umur bulan pada saat terbenam kurang lebih lima setengah jam.
Umur bulan yang kurang dari 6 jam biasanya belum cukup umur untuk tampil sebagai hilal, walaupun faktanya pada saat matahari terbenam bulan berada diatas ufuk. untuk itu mari kita chek dengan menggunakan software mooncalc. Hasilnya untuk kota Jakarta adalah sebagai berikut:

Syawal

Hasilnya, ketinggian hilal (di Jakarta) diperkirakan hanya sebesar 0.4 derajat dengan jarak waktu antara terbenam matahari dan terbenam bulan hanya 3 menit 15 detik. kalau ditinjau dari sudut pandang astronomi, ketinggian hilal sebesar ini terlalu tipis untuk bisa dilihat dengan mata telanjang (rata-rata hilal dapat terlihat jika ketinggiannya minimal 5 derajat). Juga kalau ditinjau dari standar departemen agama yang tidak pernah menetapkan Awal bulan jika ketinggian Hilal kurang dari dua derajat, tampaknya kemungkinan besar satu syawal akan jatuh pada Keesokan Lusanya, yaitu tanggal 24 Oktober 2006. Penampakan Hilal di Wilayah Indonesia Timur dipastikan lebih rendah, dan untuk wilayah Ujung barat Indonesia, akan lebih tinggi, namun tidak akan lebih dari dua derajat (silahkan chek). Walau demikian, bisa jadi akan ada sebagian masyarakat yang akan merayakan hari idul fitri pada tanggal 23 Oktober, karena (biasanya seh) ada yang melaporkan penampakan hilal walau secara ilmiah mustahil. Polemik tentang hilal sudah pernah saya tulis di sini.

Secara syar'i penentuan Awal Ramadhan/Syawal adalah berdasarkan Rukyah (penglihatan) bukan berdasarkan Hisab (perhitungan). Saya menduga sebagaimana pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun ini akan ada sedikit "keributan" untuk masalah penetapan akhir ramadhan. Jika benar hendaknya perbedaan yang ada, tidak menjadikan perpecahan diantara umat islam.

Selamat menunaikan Ibadah di bulan Ramadhan.

Posting berkaitan:
Hisab Ramadhan/Syawal 1426H #1
Hisab Ramadhan/Syawal 1426H #2

6 komentar:

qzoners mengatakan...

wah, kalo ndak sampai 1 derajat, bakal ada 2 hari raya lagi neh

Muhammad Mufti mengatakan...

Kalo seandainya memang terjadi perbedaan janganlah itu dijadikan suatu perpecahan, karena sebenarnya perbedaan dalam umat Islam itu juga sebuah rahmat lho...

Ferdi Ramdhon Nizar mengatakan...

Alhamdulillah, sudah bulan suci Ramadhan lagi. Selamat berpuasa Ech, mohon maaf lahir dan batin.

Anonim mengatakan...

perbedaan antara rukyat dan hisab memang terjadi...and ada hal yang ironis bagi penganut rukyat..untuk awal bulan mereka tidak percaya hitungan (hisab)...tapi dalam keseharian mereka percaya waktu shalat dengan melihat "jam"..bukankah waktu shalat harus dilihat dari posisi matahari (melihat dengan mata telanjang) seperti yang dicontohkan Rasul dahulu...
misal waktu dzhuhur..setelah bayang2 sama sepanjang badan..dst.dst..
berarti ada ketidak konsistenan..karena jam (waktu) shalat berdasarkan hisab...

salam
Mohammad

Anonim mengatakan...

Berdasar pengalaman, kira kira berapa jam setelah Ijtimak, hilal bisa dilihat ?

Abu Wafa

Anonim mengatakan...

Ahali rukyah juga ahli dalam hisab. Penentuan ramadhan//syawal bukan ditentukan dengan perhitungan tapi dengan penglihatan (ada hadits-nya), Sedangkan penentuan shalat dilakukan dengan pengukuran, seperti, waktu zuhur, kita harus mengukur panjang badan dan mengukur bayang2, kemudian dibandingkan. Jadi ahli rukyah itu bukan tidak konsisten.